Perskpknusantara.com, Tanjung Selor – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) menyatakan komitmennya mendukung pendirian lembaga pendidikan tinggi yang berfokus pada bidang kebudayaan. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat pelestarian warisan budaya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), sekaligus mendorong perkembangan ekonomi kreatif di daerah.
Komitmen tersebut disampaikan Asisten Bidang Administrasi Umum Setdaprov Kaltara, Dr. Taufik Hidayat, S.TP., M.Si., saat mewakili Gubernur Kaltara membuka Dialog Kebudayaan bertajuk “Urgensi Kampus/Fakultas Budaya di Kaltara” yang diselenggarakan Yayasan Sejarah dan Budaya Kaltara (YSBKU) di Aula Kantor Gubernur Kaltara, Rabu (24/6).
Dalam sambutannya, Taufik mengungkapkan bahwa Kaltara memiliki kekayaan budaya yang sangat melimpah, mencakup keberagaman suku, bahasa, adat istiadat, kesenian, pengetahuan lokal, hingga berbagai peninggalan sejarah yang tersebar di kawasan pesisir maupun pedalaman.
Meski demikian, hingga kini Kaltara masih belum memiliki perguruan tinggi atau fakultas yang secara khusus mengembangkan disiplin ilmu kebudayaan sebagai bidang akademik.
“Lembaga pendidikan tersebut diharapkan menjadi pusat kajian, penelitian, dokumentasi, pelestarian, sekaligus pengembangan budaya daerah,” ujar Taufik.
Ia menilai dialog kebudayaan ini menjadi wadah strategis untuk menghimpun pandangan, ide, dan masukan dari berbagai pemangku kepentingan dalam merancang arah pengembangan pendidikan kebudayaan di Kalimantan Utara.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak hanya bertumpu pada aspek ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga harus didukung oleh penguatan nilai-nilai budaya. Kehadiran kampus atau fakultas budaya dinilai mampu menjaga jati diri daerah sekaligus menjadi pusat pengembangan pemikiran dan kajian kebudayaan di tengah dinamika perkembangan zaman.
Lebih lanjut, Taufik menjelaskan bahwa sektor kebudayaan juga memiliki nilai ekonomi yang besar. Pengembangan pariwisata, industri kreatif, penyelenggaraan festival budaya, kerajinan tradisional, seni pertunjukan, hingga kuliner khas daerah memerlukan dukungan riset, inovasi, serta SDM yang memiliki kompetensi di bidangnya.
“Keberadaan kampus atau fakultas budaya bukan hanya berperan dalam menjaga kelestarian budaya, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.
Ia menegaskan, pembentukan kampus atau fakultas budaya merupakan langkah strategis yang perlu diwujudkan sebagai upaya memperkuat identitas budaya Kalimantan Utara sekaligus mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Dialog kebudayaan tersebut diikuti oleh unsur Forkopimda Kaltara, akademisi dari berbagai perguruan tinggi, budayawan, seniman, peneliti sejarah dan budaya, organisasi kemasyarakatan, serta sejumlah komunitas budaya yang ada di Kalimantan Utara. /Julius Mbado, melaporkan dari Tanjung Selor, Kaltara/

