Perskpknusantara.com, Samarinda- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) mulai mempersiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai salah satu upaya mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim saat ini tengah menyusun usulan untuk diajukan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kepala BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, mengatakan langkah tersebut dilakukan karena kejadian karhutla masih ditemukan di sejumlah kabupaten dan kota.

Pada 21 Agustus 2026, BPBD Kaltim menerima laporan sekitar 20 kejadian kebakaran dalam satu hari. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena laporan dari beberapa daerah belum seluruhnya masuk.

“Kami sedang menyusun draf untuk diajukan kepada BNPB terkait pelaksanaan operasi. Beberapa daerah juga sudah menyampaikan usulan serupa,” ujar Buyung, Jumat (21/8).

Selain usulan dari Pemprov Kaltim, Buyung menyebut dirinya mendapat informasi bahwa operator di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) juga tengah menyiapkan pelaksanaan OMC.

Berdasarkan informasi yang diterima BPBD Kaltim, operasi tersebut akan menggunakan pembiayaan mandiri dan direncanakan berlangsung pada 22 hingga 27 Agustus 2026. Buyung berharap pelaksanaan OMC di kawasan IKN turut memberikan dampak positif bagi wilayah sekitarnya yang juga menghadapi persoalan karhutla.

Salah satu daerah yang saat ini menjadi perhatian adalah Kabupaten Paser. Berdasarkan hasil pemantauan BPBD Kaltim, wilayah tersebut mencatat kejadian kebakaran cukup tinggi. Dalam pemantauan dua hari sebelumnya, tercatat sekitar 70 kejadian kebakaran di Paser.

“Untuk saat ini kejadian paling banyak ada di Paser. Kalau tidak salah sekitar 70 lebih,” ungkap Buyung.

Selain Paser, BPBD Kaltim juga terus memantau kondisi asap di sejumlah daerah, termasuk Samarinda dan Berau. Pemantauan dilakukan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Dari hasil pemantauan sementara, konsentrasi asap di beberapa wilayah masih tergolong tipis. Kondisi jarak pandang juga masih berada dalam kategori aman.

“Terutama di wilayah perbatasan, Paser, kemudian Samarinda dan Berau. Tetapi kondisi asapnya masih tipis,” jelasnya.

Terkait kondisi penerbangan, BPBD Kaltim menyerahkan penilaian kepada pihak bandara. Informasi mengenai jarak pandang serta kemungkinan dampaknya terhadap aktivitas penerbangan akan mengacu pada hasil pemantauan dan keputusan pengelola bandara.

Di sisi lain, upaya pencegahan karhutla di lapangan tetap dilakukan. BPBD Kaltim bersama pihak perkebunan dan kehutanan terus melakukan pemantauan terhadap titik panas, khususnya titik yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi.

Pemprov Kaltim juga telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh bupati dan wali kota agar larangan pembakaran lahan disosialisasikan secara berjenjang hingga ke tingkat kecamatan, kelurahan, desa dan RT.

Buyung turut mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan. Apabila kebakaran terlanjur terjadi, masyarakat diminta segera melakukan pengawasan dan penanganan agar api tidak meluas.

“Kalau kebakaran sudah terjadi, mohon diawasi dengan baik supaya tidak meluas. Dampaknya sudah mulai terasa, terutama asap yang mengganggu,” katanya.

Menurut Buyung, penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan melakukan pemadaman. Langkah pencegahan, pengawasan titik panas serta peningkatan kesadaran masyarakat juga menjadi bagian penting untuk mengurangi potensi munculnya kebakaran baru.

“Potensinya memang masih ada. Karena itu, kalau kondisi ini dibiarkan, kebakaran yang umumnya terjadi akibat kelalaian bisa terus muncul. Mudah-mudahan kejadian tersebut dapat kita kurangi,” pungkasnya.

OMC kini menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan untuk membantu mengatasi kondisi cuaca sekaligus mendukung penanganan karhutla di Kaltim. Namun, pelaksanaannya tetap harus mempertimbangkan aspek pembiayaan serta kondisi atmosfer dan peluang keberhasilannya.

Dalam pelaksanaannya, OMC memanfaatkan awan yang tersedia untuk mendorong terjadinya hujan atau mengarahkan pembentukan hujan ke wilayah yang membutuhkan, sehingga diharapkan dapat membantu mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan. /Agus, melaporkan dari Samarinda, Kaltim/