Perskpknusantara.com, Malinau- Gangguan jaringan internet seluler maupun WiFi di Kabupaten Malinau masih kerap terjadi. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh keterbatasan infrastruktur telekomunikasi yang saat ini masih bergantung pada satu jalur utama fiber optik.
Hal ini terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara DPRD Kabupaten Malinau dengan pihak PT Telkom Indonesia dan Telkomsel yang digelar pada 13 Agustus 2025. Dalam pertemuan tersebut, Kepala Telkom Daerah Tanjung Selor, Didi, menjelaskan secara langsung kondisi jaringan telekomunikasi yang melayani wilayah Malinau.
Menurut Didi, seluruh layanan telekomunikasi di Malinau masih mengandalkan satu jalur backbone fiber optik yang membentang dari Tanjung Selor menuju Malinau dengan panjang sekitar 260 kilometer. Jalur tersebut melewati wilayah Kabupaten Tana Tidung dan menjadi satu-satunya tulang punggung jaringan internet serta seluler di Malinau.
Ia menjelaskan, sistem jaringan yang ada saat ini masih menggunakan pola single jalur tanpa jalur cadangan atau redundansi. Kondisi tersebut membuat jaringan sangat rentan terhadap gangguan.
“Jika terjadi putus kabel di satu titik saja, dampaknya bisa langsung dirasakan secara luas dan menimbulkan gangguan massal atau kemas, bahkan layanan bisa lumpuh total,” jelasnya.
Selain itu, jaringan telekomunikasi di Kalimantan Utara juga tidak berdiri sendiri. Koneksi dari Malinau dan Tanjung Selor terlebih dahulu terhubung ke Balikpapan sebelum diteruskan ke kota lain seperti Banjarmasin, hingga menuju gateway internasional di Singapura.
Dengan sistem tersebut, gangguan yang terjadi di luar daerah maupun di jalur internasional juga berpotensi mempengaruhi kualitas jaringan di Malinau.
Adapun penyebab utama putusnya kabel fiber optik umumnya berasal dari aktivitas pembangunan jalan maupun penggunaan alat berat yang tidak terkoordinasi dengan pihak penyedia jaringan. Kondisi geografis wilayah yang didominasi batuan dan rawa juga menjadi tantangan tersendiri dalam proses penanaman kabel.
Dalam beberapa kasus, kabel fiber optik bahkan berada di bawah lapisan aspal sehingga proses perbaikan tidak dapat dilakukan secara langsung di titik kerusakan. Teknisi harus mundur sekitar satu meter dari titik putus untuk melakukan penyambungan ulang.
“Target perbaikan biasanya memerlukan waktu sekitar dua hingga tiga jam. Tim teknis akan langsung bergerak setelah gangguan terdeteksi dan melacak titik kerusakan menggunakan alat khusus,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, Telkom juga menyiapkan sistem cadangan melalui jaringan radio atau microwave serta satelit, termasuk kerja sama dengan layanan Starlink. Namun kapasitas jaringan cadangan tersebut jauh lebih kecil dibandingkan fiber optik.
Jaringan radio misalnya hanya mampu menampung sekitar 30 persen dari total lalu lintas data. Sementara jaringan satelit lebih difokuskan untuk kebutuhan terbatas, seperti layanan pada kantor atau ruangan tertentu.
Sejak beroperasinya kabel laut pada April 2019, sejumlah wilayah di Kalimantan Utara seperti Nunukan, Tarakan, dan Tanjung Selor dinilai relatif lebih stabil karena telah memiliki jalur cadangan. Namun kondisi tersebut belum berlaku di Malinau yang hingga kini masih bergantung pada satu jalur backbone.
Karena itu, solusi jangka panjang yang dinilai paling efektif adalah pembangunan jalur fiber optik kedua guna menciptakan sistem redundansi jaringan. Meski demikian, pembangunan infrastruktur tersebut membutuhkan investasi yang besar serta dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah.
Dengan kondisi tersebut, gangguan internet di Malinau tidak semata-mata disebabkan oleh masalah sinyal, tetapi juga berkaitan erat dengan keterbatasan infrastruktur jaringan yang masih perlu dikembangkan. /Karyadi Salam, melaporkan dari Malinau, Kaltara/

