Perskpknusantara.com, Tarakan- Ketua DPD Partai Demokrat Kalimantan Utara, Yansen TP, menegaskan bahwa persoalan lingkungan hidup tidak boleh dikesampingkan dalam setiap proses pembangunan di wilayah Kalimantan Utara. Ia menilai, daerah ini memiliki potensi hutan yang sangat besar serta bernilai strategis, baik bagi Indonesia maupun dunia internasional.
Menurut Yansen, Kalimantan Utara merupakan bagian dari kawasan Heart of Borneo, yang menjadikannya salah satu wilayah penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem global dan kelestarian hutan tropis.
“Kalimantan Utara merupakan isu global karena berada di kawasan Heart of Borneo. Oleh sebab itu, persoalan lingkungan tidak boleh kita abaikan,” kata Yansen saat menyampaikan sambutan pada pembukaan Rakerda dan Bimtek DPD Partai Demokrat se-Kalimantan Utara, Selasa (13/1/2026).
Ia mengingatkan para pengambil kebijakan, khususnya anggota DPR, agar lebih cermat dalam menetapkan kebijakan tata ruang. Setiap program pembangunan, menurutnya, harus mengedepankan prinsip keberlanjutan.
“Pembangunan tidak boleh hanya berpikir soal pembukaan kebun atau proyek semata, tetapi juga harus memikirkan dampak jangka panjang. Tata ruang harus benar-benar dijaga,” ujarnya.
Yansen menekankan bahwa kelestarian lingkungan merupakan keharusan yang tidak bisa ditawar. Ia mengingatkan bahwa sumber daya alam yang selama ini diandalkan suatu saat dapat habis.
“Jika batu bara habis, hutan habis, lalu apa lagi yang kita miliki? Bahkan ketersediaan air pun bisa menjadi persoalan serius, seperti yang sudah terjadi di beberapa daerah,” jelasnya.
Ia juga menyoroti bencana banjir di wilayah Sumatera yang menurutnya tidak bisa dipandang hanya sebagai bencana alam semata, karena turut dipengaruhi oleh aktivitas manusia yang merusak lingkungan.
“Bencana di Sumatera jangan hanya dianggap sebagai musibah alam. Ada faktor manusia yang ikut berperan di dalamnya,” ungkap Yansen.
Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga sisa hutan di Kalimantan Utara sebagai warisan berharga bagi generasi mendatang.
“Selagi kita masih memiliki hutan yang terjaga, mari kita rawat bersama. Jangan sampai lima atau sepuluh tahun ke depan kita justru menghadapi ancaman akibat kebijakan dan tindakan kita sendiri,” pungkasnya. /Karyadi Salam, Melaporkan dari Tarakan, Kaltara/

