Perskpknusantara.com, Malinau- Sebuah perahu yang mengangkut rombongan tenaga kesehatan (nakes) dari UPTD Puskesmas Long Alango, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, dilaporkan karam di sungai saat dalam perjalanan menuju desa tujuan. Beruntung, seluruh penumpang berhasil selamat dari kejadian tersebut.

Kepala UPTD Puskesmas Long Alango, Elias Sarunan, membenarkan peristiwa tersebut. Ia menjelaskan bahwa insiden terjadi setelah tim nakes selesai memberikan pelayanan kesehatan di Desa Long Tebulo dan hendak melanjutkan perjalanan ke Desa Long Uli.

“Peristiwa itu terjadi pada Jumat (6/3). Saat itu kami membagi dua tim untuk pelayanan. Setelah menyelesaikan pelayanan di Long Tebulo, tim hendak melanjutkan perjalanan ke Long Uli. Namun di tengah perjalanan dari Long Tebulo menuju Long Uli, perahu yang mereka tumpangi karam,” ujar Elias saat dikonfirmasi, Sabtu (7/3/2026).

Elias menegaskan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Dua tenaga kesehatan bersama seorang motoris yang berada di perahu berhasil menyelamatkan diri karena menggunakan jaket pelampung. Namun mesin ketinting perahu serta beberapa barang bawaan hanyut terbawa arus sungai dan hingga kini belum ditemukan.

“Yang hilang hanya perlengkapan pribadi dan mesin ketinting, mesinnya juga belum ditemukan. Para penumpang bisa selamat karena menggunakan pelampung. Kita juga tidak tahu apakah ada yang tidak bisa berenang. Untuk obat-obatan aman karena berada di perahu rombongan yang lain,” jelasnya.

Pelayanan kesehatan keliling yang saat ini dikenal dengan program Integrasi Layanan Primer, termasuk pengobatan gratis, merupakan kegiatan rutin Puskesmas Long Alango. Idealnya program ini dilaksanakan setiap bulan, namun karena keterbatasan anggaran, pelaksanaannya terkadang hanya dapat dilakukan sekitar empat kali dalam setahun.

Ia juga menyoroti beratnya medan yang harus dilalui para tenaga kesehatan saat memberikan pelayanan di wilayah tersebut.

“Medan yang harus dilalui para nakes sangat ekstrem dan berbahaya,” katanya.

Menurut Elias, dari enam desa yang berada di wilayah kerja Puskesmas Long Alango, hanya dua desa yang dapat dijangkau melalui jalur darat, yakni ibu kota kecamatan dan Desa Long Kemut.

“Empat desa lainnya belum bisa dilalui kendaraan seperti motor atau mobil karena baru tersedia jalan rintisan. Sebagian besar akses masih melalui jalur sungai yang cukup berbahaya,” tambah Elias yang telah hampir empat tahun bertugas di wilayah pedalaman tersebut.

Ia mengungkapkan bahwa kejadian perahu karam bukanlah yang pertama kali terjadi. Kondisi sungai yang deras dan berbahaya kerap mengancam keselamatan para petugas kesehatan saat menjalankan tugas.

Beberapa tahun lalu bahkan pernah terjadi kecelakaan air yang merenggut nyawa seorang dokter ketika wilayah tersebut masih berada di bawah Kecamatan Long Pujungan. Peristiwa tersebut tentu meninggalkan trauma bagi para tenaga kesehatan.

“Pasti ada rasa trauma. Ini yang kami khawatirkan. Apalagi saat ini ada dokter bantuan dari Kementerian Pusat. Jika mereka melihat kejadian seperti ini, dikhawatirkan mereka enggan bertugas di sini,” ujarnya.

Elias berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih terhadap pembangunan akses infrastruktur di wilayah perbatasan tersebut. Ia mengaku telah beberapa kali menyampaikan kondisi ini kepada Bupati saat kunjungan kerja ke daerah tersebut.

“Satu-satunya solusi adalah membuka akses jalur darat agar pelayanan kesehatan bisa lebih aman dan cepat. Kami juga sudah berkoordinasi dengan Camat serta Dinas Kesehatan, dan mereka mendukung agar pelayanan kesehatan tetap dapat berjalan ke depannya,” pungkasnya. /Karyadi Salam, Melaporkan dari Malinau, Kaltara/